Rabu, 30 Januari 2019

SD N2 Amurang, SULUT - NABUNG SAMPAH - Environment Care

Berkunjung ke salah satu sekolah yang ada di Amurang Provinsi Sulawesi Utara kala itu, yaitu SD N2 Amurang, sekaligus berbincang-bincang dengan Ibu Steyni Tumimomor yakni salah satu Ibu Guru Wali Kelas 1A yang tinggal di perumahan guru yang ada di belakang sekolah.

SD N2 Amurang adalah salah satu sekolah yang memiliki keunikan tersendiri, tidak hanya dari penataan namun banyak barang bekas yang di manfaatkan dengan baik, di daur ulang, dan di buat semenarik mungkin kemudian digunakan di area sekolah baik di halaman, dan ruang kelas. 

Sekolah Dasar Negeri 2 (SDN 2) Amurang terus menanamkan budaya untuk peduli terhadap lingkungan terhadap para siswa dan siswinya.Tak hanya dalam bentuk pengarahan untuk membuang sampah pada tempatnya, namun juga mengajak para siswa untuk berpatisipasi dalam kegiatan 'Nabung sampah'.

Nabung sampah di Bank sampah yaitu mengumpulkan sampah yang sudah dipilah-pilah. Hasil dari pengumpulan sampah yang sudah dipilah akan dibuat kerajinanan dengan berbagai kreatifitas yang bertujuan untuk pengelolaan sampah yang lebih baik, dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih, dan ini dimulai dari anak-anak murid sebagai relawan kecil untuk kepedulian terhadap lingkungan yang ada di SDN2 Amurang. 

Sekolah ini pun sudah pernah mendapat gelar Adiwiyata, namun bukan berarti kegiatan berbudaya lingkungan tehenti, tetap konsisten pada bank sampah yang telah di buat sebagai aksi konkrit peduli lingkungan serta memberi nilai-nilai positif bagi anak-anak murid.

Guru-guru mengajarkan anak-anak murid agar mampu memanfaatkan barang bekas yang masih dapat digunakan, untuk sesuatu yang lebih bermanfaat yakni dengan menabung sampah. 

Proses belajar mengajar pun di buat menarik, agar tidak membuat murid bosan, yakni tidak selalu di lakukan di dalam kelas, tetapi diluar kelas, agar minat belajar anak lebih besar. Begitu juga penataan ruangan belajar, di hias dan di tata begitu berbeda, agar anak-anak mampu belajar dengan baik. 

Seperti yang disampaikan oleh Ibu Steyni bahwa, "ini adalah sekolah untuk anak-anak, dan anak-anak butuh belajar hal berbeda, seperti seni dan kreatifitas, agar tidak selalu materi atau membaca buku, itu membuat bosan, saat ini kita harus buat sesuatu yang menarik, jika anak-anak belajar semangat, guru-guru juga bersemangat, jadi ini bagiand ari pelajaran berharga tenatng kepdulian terhadap lingkungan, jaman sekarang banyak yang tidak sadar untuk membuang sampah pada tempatnya, apalagi memanfaatkan sampah untuk menjadi sesuatu yang bernilai". 

SD N2 Amurang, adalah sekolah yang berada tepat di pinggir jalan raya,sehingga sangat mudah di jangkau. Dengan adanya kegiatan-kegiatan kreatifitas seperti ini, diharapkan mampu mendorong minat anak-anak agar tidak hanya berfokus pada buku bacaan, namun terlibat dalam kepedulian terhadap lingkungan, dengan memanfaatkan barang bekas yang masih bisa terpakai. 

Berbagai jenis barang bekas yang sudah di daur ulang seperti Pohon Natal dari barang bekas, pajangan dinding, dispenser yang di alihfungsikan sebagai pot bunga, bunga-bunga, hiasan-hiasan, spatu bekas sebagai tempat bunga, dan masih banyak kerajinan lainnya yang di buat dari bahan bekas. 



Seperti yang di kutip dalam http://manado.tribunnews.com/2016/04/12/sdn-2-amurang-punya-bank-sampah , bahwa beberapa hasil kerajinan telah di jual dan di promosikan melalui media online, dan di simpan di galeri khusus. 

Beberapa catatan penulis, saat itu berkunjung di malam hari, sehingga tidak dapat memotret lebih banyak untuk dokumentasi. 

Melalui kegiatan ini, semoga dapat menginspirasi sekolah-sekolah lainnya, baik SD, SMP, SMA dan Perguruan tinggi maupun bagi semua masyarakat, karena ini sebagai aksi peduli terhadap lingkungan. 
















Rabu, 17 Oktober 2018

Permainan Tradisional Lompat Karet

Permainan Lompat karet merupakan salah satu permainan tradisional yang sejak dulu menjadi salah satu aktifitas anak-anak.

Namun saat ini, permainan ini berangsur hilang dengan berjalannya waktu, tidak hanya lompat karet, ada berbagai jenis permainan tradisional yang tidak lagi akrab di kehidupan sehari-hari anak-anak.

Situasi ini, salah satunya karena anak-anak saat ini lebih akrab dengan gadget.

Kecanggihan teknologi saat ini, membawa anak-anak pada permainan yang digital, sehingga menjadi sulit untuk berbaur dengan sesamanya, dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan telpon pintar yang menggunakan aplikasi-aplikasi games yang menarik.

Namun pemandangan menarik terlihat pada anak-anak yang ada di kampung Yakonde, ketika anak-anak berkumpul dan bermain Lompat Karet Bersama.

Saat ini mungkin permainan tradisional lebih akrab dengan anak-anak yang tinggal di kampung, karena kebanyakan anak-anak di daerah Kota lebih akrab dengan gadget.

Gadget tidak salah, anak-anak menggunakan gadget pun tidak salah, namun bukankah anak-anak kita perlu mengenal dan bersosialisasi dengan teman sebayanya..?!
Jadi mungkin akan lebih menarik jika gadget dan permainan tradisional seimbang bagi kehidupan anak-anak masa kini.

Pentingnya peran orang tua untuk memperkenalkan permainan-permainan tradisional kepada anak, agar anak-anak lebih saling berbagi dan berbaur dengan sesamanya. Sehingga anak-anak tidak hanya mengenal kehidupannya sendiri.

Biarkan anak-anak kita tumbuh, ceria dan akrab dengan sesama di lingkungannya.














Senin, 15 Oktober 2018

Training Gender Based Violence

Pentingnya program pencegahan Kekerasan Berbasis Gender bukan untuk membentuk perempuan memiliki posisi yang lebih tinggi dari laki-laki namun bagaimana agar menjadi setara dan tidak ada lagi kekerasan, karena disadari betul bahwa siapapun memiliki potensi untuk menjadi pelaku kekerasan baik laki-laki maupun perempuan.

Bagaimana memberi ruang refleksi kepada setiap kelompok masyarakat untuk melihat situasi Kekerasan Berbasis Gender yang begitu nampak namun sulit mendapat perhatian khusus. 

Fokus penanganan kekerasan berbasis gender pada masa sekarang, bukan lagi hanya pada perempuan sebagai korban, tetapi beralih pada hubungan kekuasaan antara gender laki-laki dan gender perempuan, yaitu hubungan yang tercipta dan dilanggengkan oleh stereotip atau pencitraan.

USAID-BERSAMA pada tahun 2017 telah menjadi bagian dari program penurunan kekerasan berbasis gender di Kabupaten Jayapura dan Kabupaten Jayawijaya, dan pada tanggal 9-12 oktober  bertempat di hotel front one Jayapura, melakukan pelatihan penyegaran Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender,bagi seluruh LSM yang akan menjalankan program di tahap kedua yang rencananya akan di mulai pada bulan November mendatang.

Menghadirkan Mba Wulan, sebagai fasilitator dari Jakarta yang juga sebagai pakar isu KBG dan Ibu Lisa dari tim USAID-BERSAMA sebagai salah satu Penanggung Jawab program dan kegiatan yang berlangsung.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk merefresh kembali tentang informasi serta isu-isu Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang masih dan terus nampak di kalangan masyarakat khsuusnya daerah kerja program.

Program ini bertujuan untuk membangun pemahaman perempuan tentang bagaimana menjadi perempuan yang berdaya tanpa kekerasan serta bagaimana melibatkan laki-laki dan semua pihak dalam isu ini, karena sampai saat ini masih banyak kasus-kasus kekerasan yang tidak mendapat perhatian. 

Berikut ini adalah daftara LSM yang akan terlibat dalam program USAID-BERSMA di tahun kedua program yaitu :

1. LEKAT
2. LBH APIK,
3. YHI Papua,
4. LP3AP
5. YTHP
6. YAYASAN HUMI INANE

Pada tahun pertama, dengan berbagai kegiatan yang dilakukan salah satunya dengan melakukan diskusi bersama pada 4 kelompok yaitu ayah, ibu, remaja putri dan putri serta dilakukan kegiatan 16HAKTP pada bulan desember.

Begitu banyak pencapaian serta perubahan yang dicapai, meski belum maksimal dan bahkan masih membutuhkan strategi khusus untuk melihat perubahan yang diharapkan, apalagi setiap daerah emmiliki tingkat kesulitan serta latar belakang masyarakat yang berbeda-beda.

Sehinga dalam kegiatan ini setiap mitra diajak untuk memahami kembali isu-isu Kekerasan Berbasis Gender serta penanganannya, kemudian diminta untuk merefleksikan apa saja pencapaian atau cerita sukses di tahun pertama program serta apa saja strategi yang akan di lakukan di tahun kedua program untuk mencapai hasil yang di harapkan, seperti kegiatan-kegiatan dan mampu mewujudkan satu perubahan yang besar di setiap daerah yang menjadi target program.

Kelompok peduli KBG juga menjadi sangat penting, sehingga pada diskusi bersama, muncul ide-ide dari LSM yaitu dengan membentuk kelompok peduli serta champion-champion yang akan dilibatkan dalam program, yang bertujuan untuk menjadi perpanjangan informasi dan sebagai penggerak perubahan serta menjadi fasilitator pada kegiatan-kegiatan diskusi.

Jurnalis Warga juga menjadi ide yang muncul, yaitu bagaimana melibatkan champion-champion dalam mendokumentasikan dan menulis berita tentang kejadian-kejadian yang ada di kampung.

Disadari betul bahwa LSM tidak adapat berjalan sendiri, sehingga sejak berjalannya program LSM telah menggandeng pemerintah dalam menjalankan program yaitu Dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Anak serta Stakeholder yang ada di daerah masing-masing.

Diharapkan dengan adanya program ini, mampu memberi perubahan ke arah yang lebih baik, sehingga tidak ada laki ketidakadilan dan ketidaksetaraan baik pada laki-laki maupun perempuan.












Rabu, 10 Oktober 2018

International Day Of The Girl


Perkawinan anak menjadi salah satu persoalan yang menghambat anak perempuan mencapai
potensi tertingginya. Berdasarkan data tahun 2016, di Indonesia secara umum, tercatat ada 1
dari 9 anak perempuan menikah di bawah usia 18 tahun. Perkawinan anak berdampak pada
partisipasi pendidikan yang rendah dimana dengan menikah di bawah 18 tahun berarti mereka
tidak menyelesaikan pendidikan tingkat SMA. Selain itu pernikahan usia anak membuat anak
perempuan semakin rentan terhadap kekerasan rumah tangga dan mempengaruhi kesehatan
mereka selama kehamilan dan proses melahirkan.
Untuk itu, dalam rangka memperingati hari anak perempuan internasional yang
diperingati setiap tanggal 11 Oktober, USAID Bersama akan melakukan kampanye melalui media
sosial yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang fenomena perkawinan
anak dan upaya pencegahannya, mendorong anak-anak perempuan untuk berani bermimpi besar meraih cita-cita sebelum memutuskan untuk menikah.

Melalui kampanye ini diharapkan
pesan-pesan salah satu bentuk kekerasan berbasis gender yaitu perkawinan anak dapat dicegah
dan meningkatkan kesadaran kritis masyarakat dan terutama anak-anak muda Papua sebagai
generasi penerus di masa mendatang.

Melalui sosial media, mari kita kampanyekan #stopperkawinanank #endGBV

Teman2 boleh membuat versi teman2, atau bahasa teman2, dan jangan lupa hashtag #stopperkawinananak #endGBV

Ajaklah teman2 sebanyak mungkin, dan yang menggunakan IG bisa follow dan tag Ulin Epa @UlinEpa .

Mari kita menjadi bagian dari Perubahan...👍🏼🙏
 

Kamis, 04 Oktober 2018

Tapal Batas Indonesia - Kampung Scofro

Sebagian besar wilayah perbatasan di Indonesia masih merupakan daerah tertinggal dengan sarana dan prasarana sosial dan ekonomi yang masih sangat terbatas. Pandangan di masa lalu bahwa daerah perbatasan merupakan wilayah yang perlu diawasi secara ketat karena merupakan daerah yang rawan keamanan telah menjadikan paradigma pembangunan perbatasan lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan dari pada kesejahteraan. Hal ini menyebabkan wilayah perbatasan di beberapa daerah menjadi tidak tersentuh oleh dinamika pembangunan. telegraf.co.id

Paragraf di atas seolah menggambarkan situasi yang ada di Kampung Scofro, menempuh perjalanan cukup panjang saat itu, dengan kondisi jalan yang  masih kurang bersahabat untuk menyalurkan bantuan dari Yayasan Harapan Ibu Papua, melalui gereja yang ada disana.

Disambut ramah oleh masyarakat dan jemaat, kemudian melihat lebih dekat potret kampung scofro. 

Begitu banyak hal menarik, namun satu catatan yang menjadi perhatian, ketika melihat anak-anak yang lahir dan tumbuh disana dengan fasilitas yang serba terbatas,dan bahkan banyak anak-anak INDONESIA yang lebih paham dengan Bahasa Negri Tetangga daripada bahasa Indonesia, dan kami bahkan kesulitan berkomunikasi dengan mereka, hanya dengan beberapa yang bisa menggunakan dua bahasa.

Sejenak membayangkan, apakah benar pemerintah terlalu fokus pada begitu ketatnya pengamanan, dan lupa pada pembangunan sarana-prasarana, agar mempermudah akses masyarakat yang hidup di daerah perbatasan.

Apresiasi kepada mereka yang mau mengabdi disana, sebagai guru dan sebagai petugas kesehatan dengan situasi dan kondisi seperti ini. 

Pemandangan sepanjang jalan, mendekati kampung Scofro, bendera Merah Putih berkibar, pertanda bahwa mereka adalah milik INDONESIA. 

Mereka ada disana, mereka adalah bagian dari Indonesia, mereka patut mendapatkan pendidikan dan menikmati fasilitas yang sama dengan anak-anak Indonesia lainnya. 



Scofro adalah salah satu kampung yang berada di Kecamatan Arso Timur, Kabupaten Keerom, Jayapura - Papua.


Scofro, September 2017







Senin, 24 September 2018

Kunjungan Satellite Workshop Samsara ke YHI Papua

Yayasan Harapan Ibu Papua menjadi salah satu organisasi yang di kunjungi oleh Satellite Workshop, bersama 10 orang peserta, dengan topik yang menarik yaitu Sexual Orientation Gender Identity Expression - Sex Characteristic (SOGIE-SC). (24/9)

Diskusi ini dikemas dengan metode yang sangat menarik, dan setiap peserta diberikan kesempatan untuk berbagi, bertanya dan menceritakan berbagai hal terkait dnegan topik yang di bahas.  

Kegiatan ini berlangsung selama kurang lebih 120 menit, yang di fasilitasi langsung oleh Tika yang juga menceritakan tentang kegiatan-kegiatan sebelumnya yang telah di lakukan, kegiatan ini tidak hanya di YHIP tetapi di beberapa komunitas dan di daerah lain juga yang ada di Papua dan daerah lainnya. 

Melalui kegiatan ini diharapkan semakin banyak informasi yang tersalurkan, dan setiap peserta maupun organisasi bisa menjadi perpanjangan informasi  kepada masyarakat dan komunitas.

Dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini melalui sosial media, menjadi menarik dan penting untuk topik ini di bagikan, karena sosial media merupakan salah satu alat alat yang efektif apalagi bagi remaja dan juga para pengguna sosial media lainnya.

Kegiatan ini sangat bermanfaat, dengan pengalaman dan pembelajaran baru yang diberikan oleh fasilitator dengan isu yang begitu menarik.  

Berikut beberapa penjelasan singkat tentang program Satellite Workshop yang di kutip dari laman samsaranews.com : https://samsaranews.com/2018/09/04/kunjungan-satellite-workshop-ke-wilayah-papua-dan-maluku/

Satellite Workshop merupakan salah satu program edukasi yang dilakukan oleh Samsara yang berfokus pada penjangkauan komunitas di luar Pulau Jawa. Nama Satellite diambil dengan pertimbangan bahwa akses terhadap informasi dan layanan kesehatan berbasis Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi (HKSR) masih banyak berpusat di Pulau Jawa, termasuk program dan kerja Samsara.
Kami akan melakukan perjalanan selama delapan minggu ke beberapa daerah di Papua dan Maluku. Rute yang akan kami ambil adalah Jayapura – Biak – Manokwari – Sorong – Ambon – Maluku Tengah – Kepulauan Buru – Maluku Utara. Bagi pihak yang berminat bergabung, akan tetapi berada di luar rute tersebut dapat tetap mengajukan permintaan workshop dengan mengisi form yang telah disediakan, atau menghubungi kontak yang tersedia. Dua orang fasilitator kami akan membantu komunitas/organisasi lokal untuk melakukan workshop dan diskusi terkait Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi. Mereka terdiri dari satu orang pegiat isu seksualitas dan gender dan satu orang lagi adalah seorang Bidan.
Program ini menyasar remaja dan perempuan dalam usia produktif. Kami akan bekerjasama dengan sekolah, gereja, komunitas remaja, komunitas pecinta alam, lembaga swadaya masyarakat, dan komunitas atau lembaga lain yang melibatkan laki-laki. Beberapa materi yang disiapkan untuk lokakarya dengan masyarakat di antaranya adalah:
  • Konsep Dasar Seks dan Gender, termasuk menjelaskan perbedaan keduanya dan bagaimana peran di antara laki-laki dan perempuan kemudian berkontribusi pada ekonomi dan kesehatan masyarakat.
  • Kesehatan Reproduksi, topik yang sangat diminati oleh remaja di sekolah dan asrama. Topik ini akan membahas mengenai fase-fase pubertas, menstruasi termasuk mengenai Menstrual Hygiene dan juga mengenai kehamilan.
  • Kesehatan Ibu dan Anak, merupakan topik yang banyak diminati oleh ibu-ibu di mana topik ini lebih banyak membahas terkait kesehatan selama masa kehamilan, pilihan melahirkan, ASI, kontrasepsi termasuk bagaimana melibatkan laki-laki atau suami dalam peran-peran pengasuhan dan selama masa kehamilan.
  • Pacaran Sehat dan Citra Tubuh Positif, adalah informasi yang ditujukan untuk remaja dan perempuan muda, yang membahas mengenai tanda-tanda hubungan atau relasi yang sehat, Kekerasan Dalam Pacaran (KDP), negosiasi dan pengambilan keputusan. Selain itu, topik ini akan diperkuat melalui pemahaman mengenai citra tubuh positif. Topik ini akan mengajak remaja dan perempuan untuk membangun citra tubuh positif mereka tanpa harus berpatokan dengan citra tubuh yang diciptakan oleh media.
  • Perkawinan Anak, menjelaskan mengenai siapa dan apa yang dimaksud dengan anak dan perkawinan anak, faktor pendorong perkawinan anak dan dampak perkawinan anak termasuk mengenai resiko kesehatan anak.
  • Kekerasan, membahas mengenai jenis-jenis tindakan kekerasan terhadap perempuan dan remaja termasuk di dalamnya mengenai bullying, Kekerasan Dalam Pacaran serta informasi terkait apa saja yang harus dilakukan jika kekerasan terjadi.
  • Kehamilan Tidak Direncanakan (KTD), akan membahas tentang pilihan apa saja yang dimiliki perempuan saat mengalami KTD dan apa saja dukungan yang dibutuhkan, serta kaitannya dengan aborsi tidak aman.
  • Pembuatan Pembalut Kain, topik ini merupakan topik baru pada Satellite Workshop tahun ini. Materi ini akan mengajak peserta untuk membuat pembalut kain dengan metode menjahit tangan dengan menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di rumah, seperti: kain katun (bisa jadi baju bekas), kain handuk (bisa dari handuk bekas), jarum, benang, kertas dan pensil.
Selain topik-topik di atas, Tim Satellite Workshop juga bisa menyediakan materi khusus berdasarkan kebutuhan jaringan/komunitas lokal atau atas permintaan organisasi untuk peningkatan kapasitas stafnya. Topik khusus lainnya adalah (a) Hak Asasi Manusia, (b) SOGIE (Sexual Orientation, Gender Identity and Expression) (c) HIV-AIDS (d) Asuhan Pasca Keguguran (e) Otoritas Tubuh dll..

Dengan adanya kegiatan ini, semoga dapat membangun pemahaman masyarakat dan komunitas tentang isu-isu menarik, salah satunya SOGIE-SC yang menjadi topik pembahasan hari ini. 





Minggu, 09 September 2018

YHIP: Remaja Putri Zaman Now diskusi Kekerasan Berbasis Gender

Pentingnya pelibatan remaja putri sebagai generasi milenial untuk terlibat dalam isu Kekerasan Berbasis Gender. Maraknya teknologi yang saat ini begitu lekat dengan generasi masa kini (generasi jaman now), menjadi salah satu upaya untuk memanfaatkan mereka sebagai perpanjangan informasi dan sebagai upaya percepatan kesetaraan gender.

Diskusi ini dilakukan oleh Yayasan Harapan Ibu Papua, bagi kelompok remaja putri di Kampung Yakonde, bersama 15 orang remaja putri dengan latar belakang pendidikan dan kehidupan sosial yang berbeda-beda.

Menyadari bahwa pentingnya melibatkan generasi muda untuk bergerak dalam berbagai isu-isu persoalan yang ada, salah satunya Kekerasan Berbasis Gender.
Tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan, tidak hanya terjadi di dalam rumah tangga namun pada saat pacaran, bahkan sampai terjadi pembunuhan. Generasi muda saat ini di ajak untuk memiliki keasadaran kritis dalam melihat berbagai persoalan yang terjadi.

Setiap daerah dengan situasi yang berbeda-beda untuk penyelesaian kasus kekerasan yang terjadi, baik persoalannya maupun perlakuan dan penanganannya. Ada yang di bawah ke rana hukum namun ada yang hanya sampai pada penyelesaian secara adat, atau bahkan ada yang tidak ada penyelesaian sama sekali, namun tidak cukup memberikan efek jerah bagi pelaku.

Kegiatan ini adalah untuk menumbuhkan kesadaran setiap individu remaja putri tentang kekerasan-kekerasan yang mungkin selama ini tidak di sadari atau bahkan yang sudah dialami namun tidak bertindak.

Penting juga bagi perempuan agar menyadari bahwa kegiatan ini bukan untuk membuat perempuan merasa lebih hebat, atau bahkan menjadi pelaku kekerasan, tetapi juga penting bagi perempuan mengintrospeksi diri untuk mampu menghindari hal-hal yang berpotensi terjadinya kekerasan dan merugikan diri sendiri.

Seperti yang di kutip dari salah satu laman perempuanjurnalis.com yaitu :

Perjuangan perempuan untuk membebaskan diri dari belenggu ketidakadilan gender ternyata masih panjang. Meskipun pemerintah sudah menetapkan aturan affirmative action yang menyaratkan agar keterlibatan perempuan di ranah public sebanyak 30 persen, tapi pada kenyataanya perempuan yang berkiprah di ranah publik hanya berkisar 10 persen. Itu artinya, hingga saat ini perempuan masih berkutat dengan urusan domestik.

Padahal saat ini, perempuan dituntut menjadi seorang yang mandiri yang tidak selalu tergantung dengan suami. Selain itu, perempuan juga dituntut untuk memiliki kebebasan untuk menentukan sikap, mengambil keputusan dan mengembangkan diri. Di samping itu, perempuan juga dituntut bisa mengaktualisasikan diri, sesuai dengan kebutuhannya sesuai dengan potensi dan kemampuannya. 



Gender merupakan konstruksi sosial atau yang biasa disebut sebagai jenis kelamin sosial yang sejatinya dibentuk oleh masyarakat, namun dapat dirubah, berbeda dengan jenis kelamin biologis yang tidak dapat dirubah dan dipertukarkan.

Menurut, Santrock (2003: 365) mengemukakan bahwa istilah  gender  dan seks memiliki perbedaan dari segi dimensi. Isilah seks (jenis kelamin) mengacu pada dimensi biologis seorang laki-laki dan perempuan, sedangkan gender mengacu pada dimensi sosial-budaya seorang laki-laki dan perempuan. 

Semoga kedepan lebih banyak generasi muda yang terlibat dan dilibatkan dalam upaya Kesetaran Berbasis Gender dan lebih banyak perempuan yang dapat menyuarakan serta sadar akan tindakan-tindakan ketidakadilan gender. 

Dan diharapkan melalui media sosial remaja putri mampu berbagi informasi dengan sesama pengguna sosial media, agar informasi KBG tidak lagi dirasa asing dan benar-benar memberi manfaat bagi setiap individu yang menjadi penerima informasi maupun pemberi informasi.